Small Note – Budiawan Hutasoit
Mereka yang memberi banyak akan memperoleh banyak, baik secara emosional, fisik, mental dan spiritual

Medan, Lalu Lintas serta Tabiat Orang-orangnya
Medan merupakan kota ketiga terbesar setelah Jakarta dan Surabaya dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Kota ini berbenah disana-sini, mal-mal modern sudah berdiri, seperti Sun Plaza di daerah Kampung Keling, Paladium, Medan Fair serta ITC-ITC seperti yang terdapat di Jakarta mulai dibangun. 
Bahkah hypermart-hypermart seperti Carrefour, Hypermart sudah mulai menancapkan kukunya di Medan. Dan juga PT. Shell Indonesia sudah mulai menjajaki kemungkinan membangun stasiun pengisian bahan bakar umum(atau istilah orang Medan, galon minyak)di Medan. Kenapa mereka berani untuk berinvest di Medan? Salah satu indikasinya adalah pertumbuhan kendaraan tiap tahun  di Medan sebesar 15 persen. Dengan tingkat pertumbuhan seperti di atas, tidak heran di ruas-ruas jalan tertentu di kota Medan sudah mulai mengalami kemacetan, walaupun tidak separah Jakarta (yang bisa-bisa karna saking macetnya, umur-pun habis di jalanan).
Lalu bagaimana-kah perilaku para pengendara motor atau mobil di Medan? Jika ada skala pengukuran dari 1 sampai 10 dimana 1 adalah sangat baik, maka bisa dibilang perilaku umum pengendara motor atau mobil di Medan terletak di skala 10 (hmmm…orang Medan jangan protes).
Kenapa bisa begitu?
Coba-lah iseng-iseng jalan-jalan muter-muter keliling Medan, apa yang akan terlihat, terutama di perempatan lampu merah (traffic light).

Bisa diartikan di Medan ini, lampu hijau adalah hati-hati sedang lampu merah jalan terus..haha..tidak salah tuh…kayaknya sih ga..karna walaupun lampu di depan anda hijau, bukan berarti anda bisa melenggang kangkung..tapi waspada-lah..waspadalah (kayak bung napi..). Bisa-bisa dari arah dimana traffic lightnya sedang menyala merah, sepeda motor (di Medan kalau menyebutkan sepeda motor adalah kreta), becak mesin (becak yang menggunakan mesin/motor) atau mobil angkot bisa tiba-tiba menyelonong.  Dan lebih parah adalah, anda bisa-bisa dibentak (walaupun anda diposisi yang benar).  Kalau itu sepeda motor atau mobil angkot mungkin kita bisa maklum, tapi sering-sering juga mobil yang harganya ratusan juta itu juga nyelonong.  Jadi mobil boleh harga ratusan juta, tapi kelakuan supir bajaj (padahal Bajuri aja ga kayak begitu kelakuannya).
Atau anda patuh dan berhenti pada saat lampu di depan anda menyala merah..tapi jangan kaget kalo dari belakang anda mendengar…tet..tet..tet..suara klakson yang menyuruh anda untuk terus jalan. Kalaupun anda patuh, siap-siap aja menerima sumpah serapah…Woiiiii…bodoh kali kau!!! hehehe
Soal penggunaan klakson juga kayaknya di Medan ini tidak ada aturannya..Mau pagi, mau malam bahkan tengah malam, klakson masih sering terdengar. Mungkin jempolnya sakit atau gatal kalau tidak membunyikan klakson. Dan harap diingat, itu bukan hanya dilakukan oleh supir-supir angkot atau pengendara sepeda motor, tapi mobil-mobil yang hargaya muahaalll itupun sami mawon.
Sekarang ini, lampu merah di persimpangan jalan, sudah ditambah dengan timer, supaya pengendara tau, bahwa sekian detik lagi lampu hijaunya akan berganti menjadi merah, atau sebaliknya sekian detik lagi lampu merahnya akan menjadi hijau. Sehingga diharapkan pengedara berhati-hati atau tidak usah membunyikan klaksonnya pada saat lampu menyala hijau. Kenyataannya…sami mawon…Sekian detik lagi nih lampu merah mau nyala..teeeeeeetttttt…itu klakson sudah bunyi…Masyaallah…
Saya pernah mau usulkan sama pihak Pemko Medan, supaya lampu merah di Medan ini, dihapus aja..karna buang-buang uang..biarkan aja pengendara itu mengatur sendiri. Siapa yang punya nyali lebih besar, dialah yang bisa jalan…Tapi yang anehnya, kalau lampu merah di perempatan tersebut sedang mati, sangat jarang terjadi tabrakan..
Oya, mengenai lampu merah yang ada timernya di atas…kalau pas di lampu merah, jadi serasa ikut balapan mobil atau motor…

Apakah yang menjadikan pengendara kendaraan motor di Medan tidak sabar dan tidak disiplin ini? Apakah ada hubungannya dengan jenis makanan yang dimakan? dimana jika saya perhatikan jenis makanan di Medan ini pada umumnya bersantan, daging, dan sangat kurang mengkonsumsi sayuran.  Atau memang dari sononya begitu?
Apakah tidak bisa dirubah?
Ayo dong warga Medan, masak sih tidak bisa disiplin?
Banyak yang bilang, kalau mau lihat seperti apakah sifat warga suatu kota, lihatlah kelakuan mereka di jalan raya.
Ayo Bung..mari kita ganti slogan “Ini Medan Bung” menjadi “Ini baru Medan”
Cemana..bisa kan???

No Responses to “”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: